Prolog
Si pemuda menatap kosong, ditangannya tergenggam sebuah boneka kayu setinggi dua jengkal telapak orang dewasa. Berdiri dalam simbahan air hujan, menangis sesal tanpa bisa berucap apa-apa. Dalam situasi seperti ini, terkadang guliran air yang menyapu seluruh tubuh dan wajahnya memang sangat dibutuhkan, seakan menghanyutkan seluruh kesedihan dan tangis air matanya ke hamparan tanah kosong persawahan.